Get me outta here!

Senin, 22 Juli 2013

The Umbrella Thief








Judul Buku      : The Umbrella Thief
Pengarang       : Sybil Wettasinghe (Srilangka)
Bahasa             : Bahasa Inggris

Buku anak yang ditulis dan digambar sendiri oleh Sybil Wettasinghe ini bercerita tentang seorang laki-laki yang kehilangan payungnya. Kiri Mama, begitu nama laki-laki itu, tinggal di sebuah desa kecil. Betapa bangganya Kiri Mama ketika membawa sebuah payung indah yang dibelinya di kota. Kiri Mama ingin memamerkannya pada tetangganya di desa.


Saat dalam perjalanan pulang setelah membeli payung, Kiri Mama memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah warung kopi. Kiri Mama tak mau menunjukkan payung barunya itu pada pemilik warung, maka dia menaruh payung itu di luar. Namun terkejutlah Kiri Mama ketika mengetahui payung barunya itu hilang. Kiri Mama kembali ke kota dan membeli lagi sebuah payung baru. Namun, lagi-lagi payung yang baru saja dibelinya itu kembali raib saat sedang minum kopi di warung yang sama. Kejadian itu terus berulang kali terjadi. Kiri Mama penasaran sekali, kira-kira siapa yang telah mencuri payungnya berkali-kali itu? Sebuah cerita sederhana dari Srilangka yang menceritakan betapa “mewahnya” payung kala itu. Karena memang, tak banyak orang yang bisa menggunakan payung saat hujan datang, melainkan daun pisang.   
Cerita tentang pencuri payung ini masuk dalam salah satu cerita The Best Children’s Books in The World. Cerita ini dikenalkan di Srilangka pada 1956 dengan warna hitam putih. Baru pada 1986, The Umbrella Thief dibuat dalam versi gambar berwarna. Ilustrasi pada cerita anak ini sangatlah menarik dan membuat kita selalu penasaran siapa pencuri payung itu.


Sekilas Sybil Wettasinghe


Sybil Wettasinghe (foto: google image)

Sybil Wettasinghe adalah penulis sekaligus illustrator buku anak kenamaan di Srilangka. Lahir pada tahun 1928, Wettasinghe menghabiskan masa anak-anaknya di desa Gintota, Galle, Srilangka. Pada usia enam tahun dia mengikuti orang tuanya pindah ke Kolombo. Di ibukota Srilangka itu, Wettasinghe mendapat pendidikan cara Barat. Namun ketika pindah ke kota, Wettasinghe tidak nyaman dengan orang-orang dan hingar bingarnya. Baginya komunitas yang nyaman adalah kehidupan di pedesaan seperti tempat tinggalnya semasa kecil.
Wettasinghe juga tidak begitu menyukai sekolahnya yang menerapkan aturan ketat, khas didikan sekolah asrama Katholik. Teman-teman Wettasinghe di sekolah kebanyakan adalah anak kelas menengah yang memang dipersiapkan untuk menjadi wanita karir. Diharapkan setelah lulus SMA, mereka akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi seperti Kedokteran atau Hukum. Namun, Wettasinghe tidak mau memilih jalan yang sama dengan kawan-kawannya. Menjelang ujian kelulusan, Wettasinghe bilang kepada orang tuanya kalau dia ingin menjadi seniman dan memutuskan untuk tidak mengikuti ujian kelulusan SMA.  
Publik Srilangka kemudian mulai mengakui lukisan Wettasinghe saat sang ayah mengikutsertakan karya-karya putrinya itu ke Colombo Art Gallery. Dari situlah, Mr. H.D Sugathapala, salah satu orang yang tertarik dengan lukisan Wettasinghe menawarinya untuk menggambar ilustrasi untuk buku anak berwarna pertama di Srilangka. Padahal usianya masih sangat muda, 15 tahun! Perjalanannya sebagai illustrator berkembang ketika Wettasinghe bergabung di sebuah surat kabar dan kemudian membawanya ke Lakehouse Publication, di surat kabar Janatha. Semasa bekerja di Janatha, Wettasinghe mulai sering mengisi kolom untuk halaman anak-anak di sana. Dengan dukungan dari editornya sendiri, Wettasinghe kemudian mulai serius menulis buku anak yang hingga kini tercatat sudah ada sekitar 200an cerita.  
Yang menarik dari Wettasinghe adalah dia bukan lulusan sekolah seni. Dia juga tidak pernah belajar pada seniman terkenal. Di masa mudanya, Wettasinghe lebih tertarik pada tradisi melukis non Barat dan tidak mau mengikuti tren artistik yang sangat dipengaruhi Inggris. Dia malah lebih memilih untuk tetap setia dengan karya seniman India, seperti Jamini Roy dan Nandalal Bose, serta lebih terpengaruh pada lukisan-lukisan Moghul.   
Banyak karya Wettasinghe yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang, Inggris, Korea, China, dan Swedia. Di antaranya, Podda and Poddi, Kuda Hora, Child in Me, serta The Umbrella Thief.  

(foto: google image)


Kuda Hora (foto: google image)



 




0 komentar:

Posting Komentar